SEJARAH DALAM PENGERTIAN DAN KEGUNAANNYA SEBAGAI ILMU
- A. Latar Belakang
Lambat laun muncullah cabang-cabang ilmu termasuk Ilmu Sejarah, ilmu ini terikat pada prosedur penelitian ilmiah dan penalaran yang bersandar pada fakta (bahasa latin Factus berarti apa yang sudah selesai). Kebenaran ilmu sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap sejarah secara objektif[2].
- B. Rumusan Masalah
- Apa Pengertian Ilmu Sejarah?
- Bagaiaman Kedudukan Ilmu Sejarah?
- Apa Kegunaan Ilmu Sejarah?
- Nilai-nilai Apa Saja Yang Dapat Diperoleh Dari Pembahasan Makalah Ini?
- C. Tujuan Penulisan
- Untuk menjelaskan pengertian Ilmu Sejarah.
- Untuk menjelaskan kedudukan Ilmu Sejarah.
- Untuk menjelaskan kegunaan Ilmu Sejarah.
- Untuk menemukan nilai-nilai universal dalam pembahasan makalah ini.
PEMBAHASAN
- 1. Pengertian Ilmu Sejarah
A. Pengertian Ilmu Sejarah Secara Negatif
Sejarah Bukan Mitos. (Dalam bahasa Yunani mythos berarti dongeng). Sama-sama menceritakan masa lalu sejarah berbeda dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan tidak jelas dan kejadian-kejadiannya tidak masuk akal untuk orang-orang masa sekarang. Mitos bersama dengan nyanyian, mantra, syair, dan pepatah termasuk tradisi lisan. Tradisi lisan ini dapat menjadi sejarah, asal ada sumber sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan, misalnya masyarakat lama yang berada di Timor Timur, Dayak, Papua, dll masyarakat akan mengandalkan diri pada tradisi lisan dalam penulisan sejarah. Untuk melacak asal usul kebudayaan mereka. Semua sumber itu sah sifatnya, asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.
Sejarah Bukan Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh sebagai pengetahuan yang tidak ilmiah bila berhubungan dengan filsafat. Ada dua kemungkinan penyalahgunaan sejarah oleh filsafat yaitu: Sejarah dimoralkan dan Sejarah sebagai ilmu yang konkrit dapat menjadi filsafat yang abstrak. Filsafat itu abstrak (bahasa latin abstractus berarti pikiran), dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian. Filsafat, sebaliknya, kalau ia berbicara tentang manusia, maka manusia itu ialah manusia pada umumnya, manusia yang hanya ada dalam gambaran angan-angan.
Sejarah Bukan Ilmu Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau Human Studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah kedalam ilmu-ilmu sosial (Social Scineces) dan ilmu kemanusiaan (Humanities). Orang sering membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu manusia. Di satu pihak ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tertentu bertujuan menentukan hukum-hukum yang umum, atau bersifat nomothetis (bahasa Yunani nomo berarti hukum, dan tithenai berarti mendirikan), sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat ideografis (bahasa Yunani Idio berarti ciri-ciri seseorang, dan graphein berarti menulis; sering juga disebut ideografis, bahasa Yunani Idea berarti pikiran dan graphein berarti sebab. Jadi sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku).
Sejarah Bukan Sastra. Sejarah berbeda dengan sastra setidaknya dalam empat hal yaitu: cara kerja, kebenaran, hasil dan kesimpulan. Dari cara kerjanya, sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana yang dimengerti oleh pengarangnya. Dari kebenarannya bagi pengarang secara mutlak ada di bawah kekuasaannya, dengan kata lain pengarang akan bersikap subjektif dan tidak ada yang mengikatnya. Dari hasilnya hanya menuntut supaya pengarang taat atas dunia yang dibangunnya sendiri dan dari kesimpulannya, bisa saja sastra justru berakhir dengan sebuah pertanyaan. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh sejarah. Sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.
B. Pengertian Ilmu Sejarah Secara positif
Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Jadi sejarah dalam pengertian yang positif adalah:
Sejarah adalah ilmu tentang manusia. Sejarah disini hanya akan mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis antara arkeolog dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500. Tetapi manusia masa kini akan menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial sesuai dengan minat utamanya, seperti sosiolog, ilmu politik dan antropologi.
Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah ilmu tentang waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu? Dalam waktu terjadi empat hal yaitu: Perkembangan, Kesinambungan, Pengulangan dan Perubahan. Dalam hal perkembangan sejarah akan melihat dan mencatat kejadian atau peristiwa yang menunjukan terjadinya perubahan dalam masyarakat dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Contoh: perubahan kehidupan manusia dari masa berburu dan meramu berubah kearah masa bercocok tanam dan berubah lagi menjadi masa perundagian dimana dari perubahan satu masa ke masa lainnya menunjukkan adanya perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada saat itu. Dalam hal kesinambungan sejarah mengkaji bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi dari lembaga-lembaga lama. Contoh: kebijakan kolonial bangsa Belanda di indonesia dengan menarik upeti kepada daerah-daerah kekuasaannya, Belanda dalam hal ini hanyalah meniru dari raja-raja pribumi. Dalam hal pengulangan sejarah mengkaji peristiwa-pristiwa yang telah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa sekarang. Munculnya kaum kapitalis yang meresahkan dan menimbulkan banyak protes sosial dari masyarakat. Sekarang kaum kapitalis muncul lagi dan kembali menimbulkan protes sosial dari masyarakat. Dalam hal perubahan terjadi apa bila masyarakat mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan terjadi oleh karena pengaruh dari luar. Contoh: Gerakan Paderi di Sumatra Barat yang menentang kaum adat sering diangap sebagai hasil pengaruh Gerakan Wahabi di Arab yang di tularkan lewat para haji yang pulang dari Mekah.
Sejarah adalah ilmu tentang makna sosial. Sejarah memberi pengetahuan tentang pemaknaan sosial dalam masyarakat. Misalnya suatu peristiwa yang mungkin biasa-biasa saja dapat menjadi begitu penting bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh: kedatangan para haji mungkin peristiwa biasa. Akan tetapi, kedatangan para haji di tahun 1888 menjadi sangat penting karena merekalah yang mengobarkan pemberontakan para petani di Banten[3].
Jadi apakah sejarah itu? sejarah adalah hasil rekontruksi dari masa lalu untuk menata masa depan. Kita belajar sejarah bukan untuk kepentingan masa lalu tetapi untuk melihat dan mengetahui peristiwa-peristiwa dimasa lalu agar menjadi pelajaran di masa depan.
- 2. Kedudukan Ilmu Sejarah
- 1. Sejarah sebagai peristiwa
Lalu bagaimana dengan sejarah yang kita pelajari sekarang? Nah, karena hanya sekali terjadi, sejarah sebagai peristiwa meninggalkan jejak-jejak sejarah, atau disebut sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber tersebut dapat berupa foto, berita surat kabar, tulisan, benda-benda, dan saksi mata. Dari jejak-jejak tersebut itulah disusun kembali (ingat rekonstruksi sejarah!) sejarah yang dibuat mendekati peristiwa sebenarnya.
- 2. Sejarah sebagai kisah
- 3. Sejarah sebagai seni
- a. Sejarah memerlukan intuisi
- b. Sejarah memerlukan imajinasi
- c. Sejarah memerlukan emosi
- d. Sejarah memerlukan gaya bahasa
- 4. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan
- 3. Kegunaan Ilmu Sejarah
- a. Sebagai ilmu
Karena sebagai ilmu, sejarah tentu saja menggunakan metode penelitian ilmiah, yang bertanggung jawab, dan terukur. Sehingga ilmu sejarah, tidak terperosok menjadi pendapat semata, yang menyesatkan.
- b. Sebagai cara mengetahui masa lampau
- c. Sebagai pernyataan pendapat
Dengan demikian, barulah kita bisa memberi saran, pendapat, bagi manusia saat ini. Pendapat tersebut berupa usulan-usulan agar kesalahan-kesalahan yang lalu tidak terulangi dan prestasi-prestasi di masa lalu dapat diulangi.
- d. Sebagai profesi
Ada banyak profesi yang berkenaan dengan sejarah. Menjadi guru sejarah salah satunya, karena di seluruh dunia ini, pelajaran sejarah selalu ada. Bahkan para bangsawan di Eropa, konon harus mendapat pelajaran sejarah setingkat S1 sebelum mereka dianggap dewasa. Menjadi guru sejarah menyenangkan sekali, bisa membawa kita dan anak didik terbang ke imajinasi, melintasi batas-batas wilayah.
Selain itu, kita bisa menjadi sejarawan ataupun arkeolog. Tahu Indiana Jones? Atau film “National Treasure”? Menyenangkan sekali bisa berpetualang mencari kisah-kisah baru, dan membuka misteri masa lalu. Di luar negeri profesi sejarawan itu sangat istimewa, karena di tangan merekalah sejarah suatu bangsa bergantung. Sayang sekali, di Indonesia keberpihakan terhadap sejarah sangat kurang. Masih banyak kisah masa lalu Indonesia yang belum terungjap.
Selain itu ada profesi lain seperti: penulis sejarah, peneliti purbakala, pemandu museum dan monumen, serta pegawai balai kajian sejarah dan pegawai arsip sejarah.
Di luar profesi itu, sejarah juga banyak membantu kita dalam profesi: wartawan, pekerja budaya, seniman, politikus (untuk mempelajari kebiajakn di masa lalu), pemandu wisata/ guide tour, penulis sastra (novelis dan cerpenis), sosiolog, antropolog, ekonom, semuanya memerlukan pengetahuan sejarah yang kuat untuk memperkuat kajiannya.
- 1. Kegunaan sejarah secara ekstrinsik
- a. Sebagai pendidikan penalaran
Dengan belajar sejarah, secara tidak langsung kita juga akan kritis dalam memandang sehala sesuatu. Oleh sebab itu sejarah dapat dikatakan, secara tidak langsung menjadi pendidikan penalaran (nalar=berpikir dengan kaidah yang benar).
Alasan ini pula yang mengidentikkan belajar sejarah dengan kebijaksanaan dan menjadi kuliah wajib bagi para keluarga bangsawan di Inggris. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Jawaharlal Nehru, Mahatma Gandhi, F.D. Roosevelt, Winston Churchil, Kennedy dan banyak tokoh besar lainnya adalah pencinta sejarah. Jika suatu saat kalian nanti menjadi tokoh besar, ingatlah perkataan saya “sejarah itu penting dan berguna”, dan buktikan apa saya benar atau salah.
- b. Sebagai pendidikan politik
Dalam hal ini, sejarah secara tidak langsung juga menjadikan pembacanya, penelitinya mengerti tentang politik, sejarah menjadi pendidikan politik.
- c. Sebagai pendidikan perubahan
Sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa lalu saja. Sejarah sebagai kisah nyata pengalaman hidup manusia dapat digunakan untuk memprediksi dan mengantisipasi kejadian berikutnya/masa depan yang memiliki kecenderungan yang sama. Sehingga secara tidak langsung, sejarah mengajak kita untuk “Berubah!”, memperbaiki yang kurang, dan meningkatkan yang lebih. Mari kita berubah!
- 4. Nilai-nilai universal
- a. Nilai Ilmu Pengetahuan
- b. Nilai Kerjasama






0 komentar:
Posting Komentar