- A. Latar Belakang
Dalam pembahasan ini sebelum kita berbicara mengenai Ilmu Sejarah ada
baiknya kita melihat dulu bagai mana Ilmu dan Sejarah itu berkembang.
Pada mulanya ilmu yang dikembangkan manusia hanya satu yaitu filsafat
dimana manusia mengalami suatu persoalan hidup dimana manusia merasa
heran, sangsi dan sadar akan keterbatasannya sebagai manusia. Hal ini
akhirnya mendorong manusia untuk berpikir secara ilmiah (Filsafat).
Setelah manusia berfilsafat ternyata masalah yang dihadapinya semakin
rumit dan kompleks sehingga tidak bisa dijawab dengan cara filsafat
[1].
Lambat laun muncullah cabang-cabang ilmu termasuk Ilmu Sejarah, ilmu
ini terikat pada prosedur penelitian ilmiah dan penalaran yang bersandar
pada fakta (bahasa latin
Factus berarti apa yang sudah
selesai). Kebenaran ilmu sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan
untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan
mengungkap sejarah secara objektif
[2].
- B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kelompok kemukakan berdasarkan latar belakang diatas ialah:
- Apa Pengertian Ilmu Sejarah?
- Bagaiaman Kedudukan Ilmu Sejarah?
- Apa Kegunaan Ilmu Sejarah?
- Nilai-nilai Apa Saja Yang Dapat Diperoleh Dari Pembahasan Makalah Ini?
- C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang kelompok kemukakan berdasarkan masalah-masalah yang akan dibahas adalah:
- Untuk menjelaskan pengertian Ilmu Sejarah.
- Untuk menjelaskan kedudukan Ilmu Sejarah.
- Untuk menjelaskan kegunaan Ilmu Sejarah.
- Untuk menemukan nilai-nilai universal dalam pembahasan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
- 1. Pengertian Ilmu Sejarah
Dalam pengertiannya Ilmu sejarah dibagi menjadi dua pengertian yaitu
pengertian secara negatif dan pengertian secara positif. Jadi apakah
sejarah itu? Untuk menjawab pertanyaan tentang karakteristik Ilmu
Sejarah, disini akan diuraikan pengertian sejarahh secara negatif
terlebih dahulu.
A. Pengertian Ilmu Sejarah Secara Negatif
Sejarah Bukan Mitos. (Dalam bahasa Yunani
mythos
berarti dongeng). Sama-sama menceritakan masa lalu sejarah berbeda
dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan tidak jelas dan
kejadian-kejadiannya tidak masuk akal untuk orang-orang masa sekarang.
Mitos bersama dengan nyanyian, mantra, syair, dan pepatah termasuk
tradisi lisan. Tradisi lisan ini dapat menjadi sejarah, asal ada sumber
sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan,
misalnya masyarakat lama yang berada di Timor Timur, Dayak, Papua, dll
masyarakat akan mengandalkan diri pada tradisi lisan dalam penulisan
sejarah. Untuk melacak asal usul kebudayaan mereka. Semua sumber itu sah
sifatnya, asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.
Sejarah Bukan Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat
terjatuh sebagai pengetahuan yang tidak ilmiah bila berhubungan dengan
filsafat. Ada dua kemungkinan penyalahgunaan sejarah oleh filsafat
yaitu: Sejarah dimoralkan dan Sejarah sebagai ilmu yang konkrit dapat
menjadi filsafat yang abstrak. Filsafat itu abstrak (bahasa latin
abstractus
berarti pikiran), dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran
umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan
ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat
dalam kejadian. Filsafat, sebaliknya, kalau ia berbicara tentang
manusia, maka manusia itu ialah manusia pada umumnya, manusia yang hanya
ada dalam gambaran angan-angan.
Sejarah Bukan Ilmu Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau
Human Studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah kedalam ilmu-ilmu sosial (
Social Scineces) dan ilmu kemanusiaan (
Humanities).
Orang sering membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu manusia.
Di satu pihak ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tertentu bertujuan
menentukan hukum-hukum yang umum, atau bersifat nomothetis (bahasa
Yunani
nomo berarti hukum, dan
tithenai berarti mendirikan), sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat ideografis (bahasa Yunani
Idio berarti ciri-ciri seseorang, dan
graphein berarti menulis; sering juga disebut ideografis, bahasa Yunani
Idea berarti pikiran dan
graphein berarti sebab. Jadi sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku).
Sejarah Bukan Sastra. Sejarah berbeda dengan sastra
setidaknya dalam empat hal yaitu: cara kerja, kebenaran, hasil dan
kesimpulan. Dari cara kerjanya, sastra adalah pekerjaan imajinasi yang
lahir dari kehidupan sebagaimana yang dimengerti oleh pengarangnya. Dari
kebenarannya bagi pengarang secara mutlak ada di bawah kekuasaannya,
dengan kata lain pengarang akan bersikap subjektif dan tidak ada yang
mengikatnya. Dari hasilnya hanya menuntut supaya pengarang taat atas
dunia yang dibangunnya sendiri dan dari kesimpulannya, bisa saja sastra
justru berakhir dengan sebuah pertanyaan. Hal ini tidak bisa dilakukan
oleh sejarah. Sejarah harus berusaha memberikan informasi
selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.
B. Pengertian Ilmu Sejarah Secara positif
Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah.
Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Jadi
sejarah dalam pengertian yang positif adalah:
Sejarah adalah ilmu tentang manusia. Sejarah disini
hanya akan mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis
antara arkeolog dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada
umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah
1500. Tetapi manusia masa kini akan menjadi objek bersama-sama beberapa
ilmu sosial sesuai dengan minat utamanya, seperti sosiolog, ilmu
politik dan antropologi.
Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah
membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah ilmu tentang
waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu? Dalam waktu terjadi
empat hal yaitu: Perkembangan, Kesinambungan, Pengulangan dan Perubahan.
Dalam hal
perkembangan sejarah akan melihat dan
mencatat kejadian atau peristiwa yang menunjukan terjadinya perubahan
dalam masyarakat dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya
masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang
lebih kompleks. Contoh: perubahan kehidupan manusia dari masa berburu
dan meramu berubah kearah masa bercocok tanam dan berubah lagi menjadi
masa perundagian dimana dari perubahan satu masa ke masa lainnya
menunjukkan adanya perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat
pada saat itu. Dalam hal
kesinambungan sejarah mengkaji
bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi dari lembaga-lembaga
lama. Contoh: kebijakan kolonial bangsa Belanda di indonesia dengan
menarik upeti kepada daerah-daerah kekuasaannya, Belanda dalam hal ini
hanyalah meniru dari raja-raja pribumi. Dalam hal
pengulangan
sejarah mengkaji peristiwa-pristiwa yang telah terjadi di masa lampau
terjadi lagi pada masa sekarang. Munculnya kaum kapitalis yang
meresahkan dan menimbulkan banyak protes sosial dari masyarakat.
Sekarang kaum kapitalis muncul lagi dan kembali menimbulkan protes
sosial dari masyarakat. Dalam hal
perubahan terjadi apa
bila masyarakat mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan
tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam
waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan terjadi oleh karena
pengaruh dari luar. Contoh: Gerakan Paderi di Sumatra Barat yang
menentang kaum adat sering diangap sebagai hasil pengaruh Gerakan Wahabi
di Arab yang di tularkan lewat para haji yang pulang dari Mekah.
Sejarah adalah ilmu tentang makna sosial. Sejarah
memberi pengetahuan tentang pemaknaan sosial dalam masyarakat. Misalnya
suatu peristiwa yang mungkin biasa-biasa saja dapat menjadi begitu
penting bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh: kedatangan para
haji mungkin peristiwa biasa. Akan tetapi, kedatangan para haji di tahun
1888 menjadi sangat penting karena merekalah yang mengobarkan
pemberontakan para petani di Banten
[3].
Jadi apakah sejarah itu? sejarah adalah hasil rekontruksi dari masa
lalu untuk menata masa depan. Kita belajar sejarah bukan untuk
kepentingan masa lalu tetapi untuk melihat dan mengetahui
peristiwa-peristiwa dimasa lalu agar menjadi pelajaran di masa depan.
- 2. Kedudukan Ilmu Sejarah
Kedudukan sejarah merupakan cara pandang yang dapat kita lakukan
dalam melihat sejarah. Kedudukan sejarah dapat dilihat dalam empat hal:
- 1. Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian sejarah itu sendiri, atau
proses terciptanya sejarah itu sendiri. Dalam bahasa Perancis dikatakan “
realite historie”
atau realitas sejarah atau sejarah yang sebenarnya. Peristiwa sejarah
tidak akan pernah terulang, dan hanya satu kali terjadi. Kenapa
demikian? Tentu saja karena peristiwa itu terikat oleh ruang dan waktu
yang tidak pernah mundur, melainkan selalu dalam gerak maju. Seketika
peristiwa terjadi, maka satu detik kemudian peristiwa tersebut telah
berlalu. Oleh karena itu, sejarah sebagai perisitiwa tidak dapat kita
hadirkan kembali.
Lalu bagaimana dengan sejarah yang kita pelajari sekarang? Nah,
karena hanya sekali terjadi, sejarah sebagai peristiwa meninggalkan
jejak-jejak sejarah, atau disebut sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber
tersebut dapat berupa foto, berita surat kabar, tulisan, benda-benda,
dan saksi mata. Dari jejak-jejak tersebut itulah disusun kembali (ingat
rekonstruksi sejarah!) sejarah yang dibuat mendekati peristiwa sebenarnya.
- 2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah merupakan kelanjutan dari sejarah sebagai
peristiwa. Sejarah sebagai kisah berusaha merangkai (me-rekonstruksi)
jejak-jejak sejarah menjadi sebuah narasi ataupun deskripsi yang utuh.
Sejarah sebagai kisah dapat berbeda-beda cara penyampaiannya, namun
semua cara tersebut tetap menggunakan sumber-sumber yang sama. Banyaknya
buku-buku sejarah bertema serupa menunjukkan sejarah sebagai kisah yang
beragam pula.
- 3. Sejarah sebagai seni
Bagaimana mungkin sejarah dapat dilihat sebagai seni? Nah, sebelumnya
kita sudah melihat sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.
Dalam proses sejarah sebagai peristiwa menjadi sejarah sebagai kisah,
ada proses merangkai sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber yang
terpisah-pisah tersebut harus dilekatkan, harus dihubungkan sehingga
menjadi saling terkait. Dalam proses itulah, muncul sejarah sebagai
seni. Setidaknya ada empat kepentingan sehingga sejarah dapat dilihat
menyerupai kerja seorang seniman:
- a. Sejarah memerlukan intuisi
Intuisi merupakan pemahaman yang bersifat instingtif
(insting/naluri). Dalam merangkai sumber-sumber sejarah yang tersebar,
sejarawan terkadang harus memainkan intusisinya untuk menarik
kemungkinan-kemungkinan dalam menghubungkan berbagai sumber. Hal ini
disebabkan karena sumber sejarah terkadang, secara kasat mata, tampak
tak berhubungan. Untuk menghubungkan hal tersebut, sejarawan memerlukan
intuisi.
- b. Sejarah memerlukan imajinasi
Sejarawan tidak mempunyai mesin waktu Doraemon, ataupun ikat pinggang
waktu. Oleh karena itu sejarawan tidak pernah dapat hadir kembali ke
masa lalu untuk melihat sebuah peristiwa sejarah. Nah, di sinilah
sejarawan memerlukan imajinasi untuk membayangkan bagaimana sebuah
peristiwa sejarah dapat terjadi. Dengan imajinasi, sejarawan dapat
menganalisis dam merangkai banyak sumber dengan lebih baik.
- c. Sejarah memerlukan emosi
Sejarah berguna sebagai alat pendidikan. Polybios mengatakan “history
is philosophy teaching by example”, sejarah mengajarkan dengan
contoh-contoh. Dengan demikian sejarah harus mampu menyampaikan sebuah
peristiwa sejarah dengan baik, sehingga pembaca dapat mengalami,
merasakan, dan menghayati sebuah peristiwa sejarah. Di sinilah, sejarah
memerlukan emosi agar peristiwa sejarah dapat dilukiskan dan membawa
pengaruh nilai-nilai bagi pembacanya.
- d. Sejarah memerlukan gaya bahasa
Gaya bahasa terkait dengan sejarah sebagai emosi. Dalam rangka
menuangkan narasi sejarah agar benar-benar membawa pengaruh bagi
pembacanya, maka sejarah menggunakan gaya bahasa. “Dengan gegap gempita
rakyat Indonesia menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Gegap
gempita merupakan gaya bahasa yang berusaha menggambarkan begitu
bersemangat dan bahagianya rakyat menyambut kemerdekaan. Gaya bahasa
mutlak diperlukan dalam penulisan sejarah modern ini, hal ini
dikarenakan sejarah memang merupakan alat pendidikan nilai-nilai yang
harus disampaikan dengan baik.
- 4. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan
Sejarah juga harus dilihat sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah. Pada
posisi ini, meskipun sejarah dapat dilihat sebagai seni, namun sejarah
tetaplah sebuah ilmu pengetahuan yang mempunyai metodologi ilmiah yang
bertanggung jawab. Dengan demikian sejarah tidak dapat disamakan dengan
sastra. Penelitian sejarah secara mutlak harus berdasarkan fakta sejarah
yang dapat dipercaya.
- 3. Kegunaan Ilmu Sejarah
Kegunaan secara instrinsik (dilihat ke dalam), merupakan kegunaan
yang langsung dapat kita lihat dan rasakan ketika terlibat dalam sejarah
:
- a. Sebagai ilmu
Tahukan kalian apa itu Ilmu Pengetahuan? Ilmu Pengetahuan adalah
jawaban teoritis terhadap masalah manusia. Jadi ilmu yang banyak kalian
pelajari, bukanlah sebuah paksaan, karena tujuan akhirnya kalian sebagai
orang terdidik harus mampu memecahkan berbagai masalah kehidupan ini.
Demikian pula ilmu sejarah, karena sebagai ilmu, sejarah pun berbagi
dengan ilmu lain untuk memecahkan masalah kehidupan ini. Sejarah ingin
memecahkan masalah manusia yang terkait dengan masa lalu, yang
menyangkut kepentingan orang banyak.
Karena sebagai ilmu, sejarah tentu saja menggunakan metode penelitian
ilmiah, yang bertanggung jawab, dan terukur. Sehingga ilmu sejarah,
tidak terperosok menjadi pendapat semata, yang menyesatkan.
- b. Sebagai cara mengetahui masa lampau
Sejarah adalah ilmu tentang peristiwa masa lalu. Dengan demikian,
sejarah akan mendayagunakan metode ilmiahnya untuk dapat mengetahui masa
lalu. Masa lalu harus terpecahkan! Ilmu sejarah membantu kita memahami
berbagai peristiwa yang mempengaruhi peradaban umat manusia sepanjang
masa. Untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sekarang, manusia harus
berdialog dengan masa lalu. Itulah salah satu kegunaan sejarah. Belajar
sejarah dengan baik akan membantu kita menemukan jati diri, karakter dan
kebanggan bangsa Indonesia.
- c. Sebagai pernyataan pendapat
Banyak penulis yang menyatakan pendapatnya dengan menggunakan sejarah
sebagai latar belakang. Kalian dapat bukatikan itu di koran-koran,
pidato-pidato, atau bahkan ketika kalian berdebat dengan teman kalian,
pasti berpikir tentang masa lalu terjadi. untuk menyelesaikan masalah
saat ini, kita harus melihat dulu masa lalu. Kita harus mempelajari apa
sebenarnya kesalahan yang terjadi di masa lampau. Selain itu kita juga
bisa mencoba strategi-strategi kehidupan yang berhasil di masa lalu.
Sejarah dapat memberikan gambaran dan pengalaman-pengalaman yang berguna
pada masa kini dan masa yang akan datang.
Dengan demikian, barulah kita bisa memberi saran, pendapat, bagi
manusia saat ini. Pendapat tersebut berupa usulan-usulan agar
kesalahan-kesalahan yang lalu tidak terulangi dan prestasi-prestasi di
masa lalu dapat diulangi.
- d. Sebagai profesi
Sejarah berguna juga, bagi yang mendalaminya, kalau tidak tentu
kasihan sekali para sejarawan, tidak berpenghasilan, dan tidak dapat
eksis di kehidupan ini. Menekuni sejarah selain dapat manfaat di atas,
juga dapat sebagai mata pencaharian, sebagai profesi yang dapt
diandalkan dan bergengsi.
Ada banyak profesi yang berkenaan dengan sejarah. Menjadi guru
sejarah salah satunya, karena di seluruh dunia ini, pelajaran sejarah
selalu ada. Bahkan para bangsawan di Eropa, konon harus mendapat
pelajaran sejarah setingkat S1 sebelum mereka dianggap dewasa. Menjadi
guru sejarah menyenangkan sekali, bisa membawa kita dan anak didik
terbang ke imajinasi, melintasi batas-batas wilayah.
Selain itu, kita bisa menjadi sejarawan ataupun arkeolog. Tahu
Indiana Jones? Atau film “National Treasure”? Menyenangkan sekali bisa
berpetualang mencari kisah-kisah baru, dan membuka misteri masa lalu. Di
luar negeri profesi sejarawan itu sangat istimewa, karena di tangan
merekalah sejarah suatu bangsa bergantung. Sayang sekali, di Indonesia
keberpihakan terhadap sejarah sangat kurang. Masih banyak kisah masa
lalu Indonesia yang belum terungjap.
Selain itu ada profesi lain seperti: penulis sejarah, peneliti
purbakala, pemandu museum dan monumen, serta pegawai balai kajian
sejarah dan pegawai arsip sejarah.
Di luar profesi itu, sejarah juga banyak membantu kita dalam profesi:
wartawan, pekerja budaya, seniman, politikus (untuk mempelajari
kebiajakn di masa lalu), pemandu wisata/ guide tour, penulis sastra
(novelis dan cerpenis), sosiolog, antropolog, ekonom, semuanya
memerlukan pengetahuan sejarah yang kuat untuk memperkuat kajiannya.
- 1. Kegunaan sejarah secara ekstrinsik
Kegunaan secara ekstrinsik (dilihat ke luar), merupakan kegunaan
tidak langsung, yang bila kita renungi, kita resapi, maka sejarah akan
berguna pada beberapa hal dalam kehidupan yaitu sebagai berikut:
- a. Sebagai pendidikan penalaran
Belajar sejarah itu perlu berpikir, perlu logika. Sejarah harus
dilihat dalam hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang ada dalam setiap
peristiwa sejarah. Ibaratkan pepatah “ada asap ada api”, “ada gula ada
semut”, sejarah selalu mendorong peneliti dan pembacanya untuk menemukan
sebab dari sebuah peristiwa. Hal ini menyebabkan belajar sejarah harus
membuat orang berpikir plurikausal (pluri=banyak; kausal=sebab).
Dengan belajar sejarah, secara tidak langsung kita juga akan kritis
dalam memandang sehala sesuatu. Oleh sebab itu sejarah dapat dikatakan,
secara tidak langsung menjadi pendidikan penalaran (nalar=berpikir
dengan kaidah yang benar).
Alasan ini pula yang mengidentikkan belajar sejarah dengan
kebijaksanaan dan menjadi kuliah wajib bagi para keluarga bangsawan di
Inggris. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Jawaharlal
Nehru, Mahatma Gandhi, F.D. Roosevelt, Winston Churchil, Kennedy dan
banyak tokoh besar lainnya adalah pencinta sejarah. Jika suatu saat
kalian nanti menjadi tokoh besar, ingatlah perkataan saya “sejarah itu
penting dan berguna”, dan buktikan apa saya benar atau salah.
- b. Sebagai pendidikan politik
Ada pernyatan umum yang mengatakan, sejarah itu adalah sejarah
tentang politik. Sejarah banyak sekali membahas mengenai sejarah
politik, bahkan selama ini sejarah selalu identik dengan politik. Dari
jaman suku-suku kecil, kerajaan-kerajaan, hingga terbentuknya negara
modern, semua dipelajari dalam sejarah. Para politikus dan
organisasi-organisasi massa belajar sejarah untuk mengkaji
kebijakan-kebijakan di masa lalu. Misalnya kebijakan ekonomi harus
melihat sejarah perekonomian suatu bangsa, sehingga kegagalan-kegagalan
dapat diminimalisir.
Dalam hal ini, sejarah secara tidak langsung juga menjadikan
pembacanya, penelitinya mengerti tentang politik, sejarah menjadi
pendidikan politik.
- c. Sebagai pendidikan perubahan
Bagaimana perkembangan (sejarah) hidupmu? Yah, kamu dulu hanya bayi
kecil yang bergantung pada ibu, lalu kamu remaja, dewasa, dan nantinya
tua juga. Sejarah juga belajar tentang perkembangan tersebut, dari awal
dulu, hingga sekarang, dan ternyata dunia selalu berubah. Belajar
sejarah, berarti juga belajar untuk berubah, belajar untuk bergerak, dan
melakukan pembaharuan.
Sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa lalu
saja. Sejarah sebagai kisah nyata pengalaman hidup manusia dapat
digunakan untuk memprediksi dan mengantisipasi kejadian berikutnya/masa
depan yang memiliki kecenderungan yang sama. Sehingga secara tidak
langsung, sejarah mengajak kita untuk “Berubah!”, memperbaiki yang
kurang, dan meningkatkan yang lebih. Mari kita berubah!
- 4. Nilai-nilai universal
- a. Nilai Ilmu Pengetahuan
Banyak contoh sejarawan bukanlah orang yang memang terdidik untuk
menjadi sejarawan, tetapi penulis sejarah dapat datang dari mana saja.
Sejarah merupakan ilmu yang terbuka. Kenyataannya sejarah banyak
mengunakan bahasa sehari-hari, keterbukaan itulah membuat siapa saja
dapat memperoleh dan mengambil ilmu pengetahuan dari sejarah.
- b. Nilai Kerjasama
Ilmu Sejarah merupakan ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri ia perlu
ilmu-ilmu lain untuk menyempurnakan hasil kajiannya agar dapat diterima
dan mudah dipahami. Dari penjelasan tersebut ternyata untuk ilmu-ilmu
pengetahuan yang ada tidak dapat berdiri sendiri, harus ada kerjasama
antara ilmu-ilmu.
New Inspiration