About

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 26 Maret 2015

POLA PIKIR

PERILAKU KONSUMEN DAN PERILAKU PRODUSEN

1. Pola Perilaku konsumen dan pola perilaku produsen

1. Manfaat (nilai guna)suatu barang

Barang atau jasa bermanfaat karena untuk memperolehnya memerlukan pengorbanan dan dapat memenuhi kebutuahan. Pengorbanan itu bisa berbentuk:
1. Jumlahnya sedikit atau terbatas
2. Ongkos produksinya mahal
3. Iptek yang digunakan
4. Besarnya tenaga
5. Seni yang termaktub atau tersirat


2. Pola Perilaku Konsumen

Arah pola perilaku konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan memenuhi kepuasan dengan pilihan-pilihan yang rasional atas manfaat suatu barang atau jasa yang akan dikonsumsi.  Pilihan terhadap barang atau jasa yang di konsumsi berdasarkan
  • Kualitas barang yaitu awet, higenis, dan praktis 
  • Harga ekonomis 
  • Jumlah 
  • Jaminan/garansi 
  • Nilai seni dan sejarah 
  • Hobi atau feel 
Untuk mengetahui tingkat konsumsi terhadap suatu barang maka dapat dihitung melalui dua pendekatan yaitu

1. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach)

Menggunakan konsep marginal utility/tambahan nilai guna (MU) sesuai hukum Gossen 1 yang intinya apabila konsumsi satu jenis barang terus dilakukan maka kegunaan/ utilitas barang semakin meningkat akan tetapi tambahan nilai guna semakin menurun. Hukum Gossen II yaitu konsumsi berbagai jenis barang dengan tingkat pendapatan dan harga tertentu akan mencapai tingkat optimisasi (kepuasaan maksimal) pada saat MU = harga semua barang yang dikonsumsi.
Urutan gelas yang diminum
(TU)
Total Utility
MU
0 belum minum
0
-
1 (Sangat nikmat)
10
10
2 (Nikmat)
17
7
3 (cukup nikmat)
19
2
4 (kurang nikmat)
19
0
Contoh : sehabis Olah raga Adi terasa haus maka yang di butuhkannya adalah air, adi kemudian minum segelas air, terasa sangat nikmat sekali (MU) di tenggorokan dengan kepuasan (TU) mencapai nilai 10, kemudian ia masih merasa kekurangan dan minum segelas lagi (gelas ke-2) terasa nikmat dan nilai total kepusannya (TU) 17, lagi-lagi Adi minum segelas lagi dan ternyata nikmatnya berkurang (MU) menjadi cukup nikmat tidak seperti pada saat pertama minum dan nilai total ulitilitasnya menjadi 19. Ternyata Adi juga belum puas kemudian minum segelas lagi sehingga perutnya mulai terasa penuh yang artinya kurang nikmat dan total utilityanya tetap 19 karena tidak memberikan tambahan manfaat. Jika Adi masih terus minum maka bukan manfaat yang di dapat tetapi kerugian yang artinya perut menjadi sakit dan akan muntah sehingga MU nya menjadi Minus. Sehingga grafiknya vertikal.
2. Pendekatan ordinal (Ordinal Approach) 

Menganggap bahawa utilitas barang tidak perlu diukur tetapi konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya utilitas yang diperoleh dari mengkonsumsi. Pendekatan Ordinal dibagi menjadi 2 konsep yaitu 
 A. Konsep Indiference Curve (kurva Indiferen) 
Adalah kurva yang menggambarkan kombinasi dua macam barang yang memberikan Utilitas yang sama.
Contoh: Nabu ingin membeli baju dan celana. Dia memikirkan kombinasi pembelian baang tersebut dengan tingkat utiltas yang sama seperti table dan kurva di bawah ini.



B. Konsep Garis Anggaran (Budget Line)
Garis anggaran adalah garis yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda dengan pendapatan yang sama.

GEOGRAFIS INDONESIA

Letak Geografis Indonesia dan Pengaruhnya

Letak Geografis Indonesia
Indonesia merupakan salah satu Negara yang terdiri atas beberapa pulau utama dan ribuan pulau kecil. Pulau utama di Indonesia antara lain: Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan juga Irian. Jika didasarkan pada angka statistik, wilayah territorial Indonesia didominasi lautan dengan perbandingan 4:1 dengan daratan. Meski demikian, jika semua pulau di Indonesia digabungkan menjadi satu, maka ia akan menempati urutan ke-15 negara terluas di dunia. Jika didasarkan pada letak geografis Indonesia, maka ia termasuk ke dalam kawasan regional Asia Tenggara. Letak geografis ini dianggap sebagian ahli sangat strategis sebab ikut membentuk Indonesia sebagai salah satu Negara potensial di dunia. Sama seperti letak astronomis, titik geografis memang berpengaruh banyak pada sebuah wilayah. Lantas, apa pengaruh positif letak geografis terhadap Indonesia? Simak uraian berikut ini.

Sebelum lebih jauh, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan letak geografis. Berbeda dengan letak astronomis, letak geografis melihat sebuah wilayah dari letak nyatanya di permukaan bumi. Sudut pandang geografis lebih menekankan sebuah titik berdasarkan fenomena geografi yang melingkupi wilayah tersebut. Fenomenaa geografis yang dimaksud antara lain pegunungan, sungai, lautan, samudera, benua dan lain-lain. Lantas, bagaimana dengan letak geografis Indonesia?


Secara geografis, Indonesia diapit dua samudera dan juga dua benua. Secara detil, pada bagian barat laut Indonesia berbatasan dengan Benua Asia. Sedangkan pada bagian Tenggara, Indonesia berbatasan dengan Benua Australia. Pada arah barat, wilayah Indonesia berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah timur laut berbatasan dengan Samudera Pasifik. Batas-batas geografis ini memberi sejumlah pengaruh bagi Indonesia sebagai sebuah Negara dengan kebudayaan yang beragam.

Pengaruh letak geografis Indonesia, antara lain sebagai berikut:
  1. Secara fisik, dengan letak geografis tersebut Indonesia kemudian dilalui oleh angin monsoon atau muson. Angin ini berganti arah sebanyak dua kali di dalam satu tahun. Kehadiran angin muson ini membuat Indonesia hanya memiliki dua musim yakni penghujan dan kemarau.
  2. Indonesia yang diapit dua benua dan juga dua samudera, membuat wilayah Indonesia sangat strategis sebab dilalui oleh persimpangan lalu lintas internasional baik itu di udara dan juga di laut. Dengan kenyataan tersebut, Indonesia kemudian menjadi Negara yang potensi perekonomiannya baik sebab Negara industri dan Negara berkembang menjadikan Indonesia sebagai titik industri mereka.
  3. Pengaruh letak geografis Indonesia lainnya menyentuh soal budaya. Kekayaan kultur di Indonesia tidak lepas dari kebudayaan Negara yang terletak di sekitarnya. Derasanya kebudayaan ini lambat laun memasuki proses asimilasi dan sebagai hasilnya Indonesia memiliki kebudayaan lain yang beragam dan khas.
Selain letak geografis Indonesia, penting juga untuk mengetahui letak geologisnya. Dari sudut pandang geologis, Indonesia dilihat berdasarkan jenis bebatuan yang ada. Secara geologi, Indonesia dilalui oleh dua pegunungan yakni Mediteranian pada sebelah barat dan pegunungan Sirkum di bagian Timur. Keberadaan dua pegunungan tersebut membuat Indonesia kaya akan gunung berapi yang selalu aktif serta rawan akan gempa bumi.

Selasa, 17 Februari 2015

BELAJAR SEJARAH

Kegunaan Sejarah


Belajar sejarah banyak kegunaannya dalam kehidupan sekarang atau untuk masa yang akan datang. Sejarah dapat memberikan gambaran dan menjadi pedoman bagi suatu bangsa untuk melangkah dari kehidupan masa kini ke masa yang akan datang. Tiap-tiap individu pada setiap bangsa dan negara harus memiliki kesadaran akan arti pentingnya sejarah.
Kesadaran sejarah merupakan dimensi yang memuat konsepsi waktu yang dimiliki manusia yang berbudaya. Kesadaran sejarah yang tercermin pada individu akan lebih bermanfaat jika bersifat kolektif, sebab sebagai ungkapan masyarakat bersama terhadap situasi yang ada, baik politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang mampu membangun perasaan senasib sebagai suatu anggota bangsa dan negara.
Pengalaman yang dimiliki oleh suatu masyarakat di masa lampau merupakan pengalaman yang bernilai sejarah dan berharga bagi bangsa tersebut pada masa kini, sebab akan memberikan bantuan daya pikir dan tindakan yang bijaksana. Oleh karena itu, sejarah memiliki arti yang penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Output yang dihasilkan dari belajar sejarah dapat Anda simak dalam bagan berikut:


Di tengah masyarakat yang luas, sejarah mempunyai arti dan kegunaan sosial, yaitu memberi kegunaan edukatif (pelajaran), kegunaan yang menimbulkan inspirasi (ilham), dan fungsi rekreatif (rasa yang menyenangkan).
1. Kegunaan edukatif (memberi pelajaran)
Mempelajari sejarah berarti belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan masyarakat, baik pada masa sekarang atau masyarakat sebelumnya. Keberhasilan di masa lampau akan dapat memberi pengalaman pada masa sekarang. Sebaliknya, kesalahan masyarakat di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga yang harus diwaspadai di masa kini.
Dengan mempelajari sejarah, orang dapat menemukan hukum yang menguasai kehidupan manusia, bahkan dengan belajar sejarah kita dapat berbuat bijaksana untuk menghadapi masa depan (ingat belajar sejarah akan bijaksana lebih dahulu). Oleh karena itu, belajarlah dari sejarah karena sejarah dapat mengajarkan kita apa yang telah dilakukan sebelumnya.
Keberhasilan Kerajaan Majapahit akan memberi pelajaran bagi masyarakat sekarang untuk bekerja keras, bersatu dalam satu tujuan untuk mencapai masyarakat adil makmur. Sebaliknya, perang saudara menyebabkan kelemahan negara yang akhirnya meruntuhkan Majapahit (ingat Perang Paregreg di Majapahit). Begitu juga apa sebab di Singasari selalu terjadi pergantian tahta tidak lain disebabkan adanya usaha yang tidak saling membangun tetapi saling menjatuhkan (Ken Arok merebut tahta dari Tunggul Ametung, selanjutnya anak Tunggul Ametung membunuh Ken Arok dan sebaliknya, anak Ken Arok membunuh Anusopati dan begitu seterusnya).
2. Sejarah berguna memberikan inspirasi (ilham kepada kita)
Berbagai kisah sejarah yang terjadi memberikan inspirasi (ilham). Misalnya, Pangeran Diponegoro berusaha melawan dengan sistem gerilya terhadap pasukan Jenderal De Kock, dan selama 5 tahun ia berhasil memorak-porandakan pihak Belanda. Begitu juga perjuangan rakyat Indonesia dalam gerakan nasional yang ditandai lahirnya Budi Utomo memberikan inspirasi bagi kita untuk hidup kreatif, bersatu, dan selalu mengutamakan persatuan untuk tercapainya Indonesia merdeka. Sikap rela berkorban demi persatuan dan berjuang tanpa pamrih telah ditunjukkan oleh para tokoh organisasi pergerakan nasional Indonesia.
Bangsa Indonesia sudah memasuki kebangkitan nasional yang kedua berusaha mengejar ketinggalan dalam era globalisasi ilmu dan teknologi, suatu masa di mana kita harus meningkatkan persatuan serta patriotisme untuk membawa bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik dari masa sekarang.
3. Sejarah dapat berguna sebagai rekreatif
Sejarah dapat memberikan kesenangan dan rasa estetis karena penulisan sejarah mampu menarik pembaca berekreasi tanpa beranjak dari tempat. Kita dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa yang telah lampau dan jauh terjadinya.
Kita seolah-olah mengelilingi negeri jauh dan menyaksikan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, misalnya, pembangunan Taman Bergantung di Babilonia atau Taj Mahal di Agra India. Kita dapat melihat keindahan dan kehebatan masyarakat pada waktu itu. Maka melalui kegunaan rekreatif ini akan mendorong masyarakat untuk maju dan lebih terbuka, dapat bergaul dengan siapa pun, menyenangi ilmu dan teknologi, disiplin, bekerja keras, menghormati hukum, inovatif, produktif, serta mau bekerja sama untuk mencapai cita-cita bangsa.

SEJARAH ITU HARUS DI BACA

SEJARAH DALAM PENGERTIAN DAN KEGUNAANNYA SEBAGAI ILMU

  1. A. Latar Belakang
Dalam pembahasan ini sebelum kita berbicara mengenai Ilmu Sejarah ada baiknya kita melihat dulu bagai mana Ilmu dan Sejarah itu berkembang. Pada mulanya ilmu yang dikembangkan manusia hanya satu yaitu filsafat dimana manusia mengalami suatu persoalan hidup dimana manusia merasa heran, sangsi dan sadar akan keterbatasannya sebagai manusia. Hal ini akhirnya mendorong manusia untuk berpikir secara ilmiah (Filsafat). Setelah manusia berfilsafat ternyata masalah yang dihadapinya semakin rumit dan kompleks sehingga tidak bisa dijawab dengan cara filsafat[1].
Lambat laun muncullah cabang-cabang ilmu termasuk Ilmu Sejarah, ilmu ini terikat pada prosedur penelitian ilmiah dan penalaran yang bersandar pada fakta (bahasa latin Factus berarti apa yang sudah selesai). Kebenaran ilmu sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap sejarah secara objektif[2].
  1. B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kelompok kemukakan berdasarkan latar belakang diatas ialah:
  1. Apa Pengertian Ilmu Sejarah?
  2. Bagaiaman Kedudukan Ilmu Sejarah?
  3. Apa Kegunaan Ilmu Sejarah?
  4. Nilai-nilai Apa Saja Yang Dapat Diperoleh Dari Pembahasan Makalah Ini?
  1. C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang kelompok kemukakan berdasarkan masalah-masalah yang akan dibahas adalah:
  1. Untuk menjelaskan pengertian Ilmu Sejarah.
  2. Untuk menjelaskan kedudukan Ilmu Sejarah.
  3. Untuk menjelaskan kegunaan Ilmu Sejarah.
  4. Untuk menemukan nilai-nilai universal dalam pembahasan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
  1. 1. Pengertian Ilmu Sejarah
Dalam pengertiannya Ilmu sejarah dibagi menjadi dua pengertian yaitu pengertian secara negatif dan pengertian secara positif. Jadi apakah sejarah itu? Untuk menjawab pertanyaan tentang karakteristik Ilmu Sejarah, disini akan diuraikan pengertian sejarahh secara negatif terlebih dahulu.
A. Pengertian Ilmu Sejarah Secara Negatif
Sejarah Bukan Mitos. (Dalam bahasa Yunani mythos berarti dongeng). Sama-sama menceritakan masa lalu sejarah berbeda dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan tidak jelas dan kejadian-kejadiannya tidak masuk akal untuk orang-orang masa sekarang. Mitos bersama dengan nyanyian, mantra, syair, dan pepatah termasuk tradisi lisan. Tradisi lisan ini dapat menjadi sejarah, asal ada sumber sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan, misalnya masyarakat lama yang berada di Timor Timur, Dayak, Papua, dll masyarakat akan mengandalkan diri pada tradisi lisan dalam penulisan sejarah. Untuk melacak asal usul kebudayaan mereka. Semua sumber itu sah sifatnya, asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.
Sejarah Bukan Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh sebagai pengetahuan yang tidak ilmiah bila berhubungan dengan filsafat. Ada dua kemungkinan penyalahgunaan sejarah oleh filsafat yaitu: Sejarah dimoralkan dan Sejarah sebagai ilmu yang konkrit dapat menjadi filsafat yang abstrak. Filsafat itu abstrak (bahasa latin abstractus berarti pikiran), dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian. Filsafat, sebaliknya, kalau ia berbicara tentang manusia, maka manusia itu ialah manusia pada umumnya, manusia yang hanya ada dalam gambaran angan-angan.
Sejarah Bukan Ilmu Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau Human Studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah kedalam ilmu-ilmu sosial (Social Scineces) dan ilmu kemanusiaan (Humanities). Orang sering membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu manusia. Di satu pihak ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tertentu bertujuan menentukan hukum-hukum yang umum, atau bersifat nomothetis (bahasa Yunani nomo berarti hukum, dan tithenai berarti mendirikan), sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat ideografis (bahasa Yunani Idio berarti ciri-ciri seseorang, dan graphein berarti menulis; sering juga disebut ideografis, bahasa Yunani Idea berarti pikiran dan graphein berarti sebab. Jadi sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku).
Sejarah Bukan Sastra. Sejarah berbeda dengan sastra setidaknya dalam empat hal yaitu: cara kerja, kebenaran, hasil dan kesimpulan. Dari cara kerjanya, sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana yang dimengerti oleh pengarangnya. Dari kebenarannya bagi pengarang secara mutlak ada di bawah kekuasaannya, dengan kata lain pengarang akan bersikap subjektif dan tidak ada yang mengikatnya. Dari hasilnya hanya menuntut supaya pengarang taat atas dunia yang dibangunnya sendiri dan dari kesimpulannya, bisa saja sastra justru berakhir dengan sebuah pertanyaan. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh sejarah. Sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.
B. Pengertian Ilmu Sejarah Secara positif
Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Jadi sejarah dalam pengertian yang positif adalah:
Sejarah adalah ilmu tentang manusia. Sejarah disini hanya akan mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis antara arkeolog dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500. Tetapi manusia masa kini akan menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial sesuai dengan minat utamanya, seperti sosiolog, ilmu politik dan antropologi.
Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah ilmu tentang waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu? Dalam waktu terjadi empat hal yaitu: Perkembangan, Kesinambungan, Pengulangan dan Perubahan. Dalam hal perkembangan sejarah akan melihat dan mencatat kejadian atau peristiwa yang menunjukan terjadinya perubahan dalam masyarakat dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Contoh: perubahan kehidupan manusia dari masa berburu dan meramu berubah kearah masa bercocok tanam dan berubah lagi menjadi masa perundagian dimana dari perubahan satu masa ke masa lainnya menunjukkan adanya perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada saat itu. Dalam hal kesinambungan sejarah mengkaji bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi dari lembaga-lembaga lama. Contoh: kebijakan kolonial bangsa Belanda di indonesia dengan menarik upeti kepada daerah-daerah kekuasaannya, Belanda dalam hal ini hanyalah meniru dari raja-raja pribumi. Dalam hal pengulangan sejarah mengkaji peristiwa-pristiwa yang telah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa sekarang. Munculnya kaum kapitalis yang meresahkan dan menimbulkan banyak protes sosial dari masyarakat. Sekarang kaum kapitalis muncul lagi dan kembali menimbulkan protes sosial dari masyarakat. Dalam hal perubahan terjadi apa bila masyarakat mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan terjadi oleh karena pengaruh dari luar. Contoh: Gerakan Paderi di Sumatra Barat yang menentang kaum adat sering diangap sebagai hasil pengaruh Gerakan Wahabi di Arab yang di tularkan lewat para haji yang pulang dari Mekah.
Sejarah adalah ilmu tentang makna sosial. Sejarah memberi pengetahuan tentang pemaknaan sosial dalam masyarakat. Misalnya suatu peristiwa yang mungkin biasa-biasa saja dapat menjadi begitu penting bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh: kedatangan para haji mungkin peristiwa biasa. Akan tetapi, kedatangan para haji di tahun 1888 menjadi sangat penting karena merekalah yang mengobarkan pemberontakan para petani di Banten[3].
Jadi apakah sejarah itu? sejarah adalah hasil rekontruksi dari masa lalu untuk menata masa depan. Kita belajar sejarah bukan untuk kepentingan masa lalu tetapi untuk melihat dan mengetahui peristiwa-peristiwa dimasa lalu agar menjadi pelajaran di masa depan.
  1. 2. Kedudukan Ilmu Sejarah
Kedudukan sejarah merupakan cara pandang yang dapat kita lakukan dalam melihat sejarah. Kedudukan sejarah dapat dilihat dalam empat hal:
  1. 1. Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian sejarah itu sendiri, atau proses terciptanya sejarah itu sendiri. Dalam bahasa Perancis dikatakan “realite historie” atau realitas sejarah atau sejarah yang sebenarnya. Peristiwa sejarah tidak akan pernah terulang, dan hanya satu kali terjadi. Kenapa demikian? Tentu saja karena peristiwa itu terikat oleh ruang dan waktu yang tidak pernah mundur, melainkan selalu dalam gerak maju. Seketika peristiwa terjadi, maka satu detik kemudian peristiwa tersebut telah berlalu. Oleh karena itu, sejarah sebagai perisitiwa tidak dapat kita hadirkan kembali.
Lalu bagaimana dengan sejarah yang kita pelajari sekarang? Nah, karena hanya sekali terjadi, sejarah sebagai peristiwa meninggalkan jejak-jejak sejarah, atau disebut sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber tersebut dapat berupa foto, berita surat kabar, tulisan, benda-benda, dan saksi mata. Dari jejak-jejak tersebut itulah disusun kembali (ingat rekonstruksi sejarah!) sejarah yang dibuat mendekati peristiwa sebenarnya.
  1. 2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah merupakan kelanjutan dari sejarah sebagai peristiwa. Sejarah sebagai kisah berusaha merangkai (me-rekonstruksi) jejak-jejak sejarah menjadi sebuah narasi ataupun deskripsi yang utuh. Sejarah sebagai kisah dapat berbeda-beda cara penyampaiannya, namun semua cara tersebut tetap menggunakan sumber-sumber yang sama. Banyaknya buku-buku sejarah bertema serupa menunjukkan sejarah sebagai kisah yang beragam pula.
  1. 3. Sejarah sebagai seni
Bagaimana mungkin sejarah dapat dilihat sebagai seni? Nah, sebelumnya kita sudah melihat sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah. Dalam proses sejarah sebagai peristiwa menjadi sejarah sebagai kisah, ada proses merangkai sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber yang terpisah-pisah tersebut harus dilekatkan, harus dihubungkan sehingga menjadi saling terkait. Dalam proses itulah, muncul sejarah sebagai seni. Setidaknya ada empat kepentingan sehingga sejarah dapat dilihat menyerupai kerja seorang seniman:
  1. a. Sejarah memerlukan intuisi
Intuisi merupakan pemahaman yang bersifat instingtif (insting/naluri). Dalam merangkai sumber-sumber sejarah yang tersebar, sejarawan terkadang harus memainkan intusisinya untuk menarik kemungkinan-kemungkinan dalam menghubungkan berbagai sumber. Hal ini disebabkan karena sumber sejarah terkadang, secara kasat mata, tampak tak berhubungan. Untuk menghubungkan hal tersebut, sejarawan memerlukan intuisi.
  1. b. Sejarah memerlukan imajinasi
Sejarawan tidak mempunyai mesin waktu Doraemon, ataupun ikat pinggang waktu. Oleh karena itu sejarawan tidak pernah dapat hadir kembali ke masa lalu untuk melihat sebuah peristiwa sejarah. Nah, di sinilah sejarawan memerlukan imajinasi untuk membayangkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat terjadi. Dengan imajinasi, sejarawan dapat menganalisis dam merangkai banyak sumber dengan lebih baik.
  1. c. Sejarah memerlukan emosi
Sejarah berguna sebagai alat pendidikan. Polybios mengatakan “history is philosophy teaching by example”, sejarah mengajarkan dengan contoh-contoh. Dengan demikian sejarah harus mampu menyampaikan sebuah peristiwa sejarah dengan baik, sehingga pembaca dapat mengalami, merasakan, dan menghayati sebuah peristiwa sejarah. Di sinilah, sejarah memerlukan emosi agar peristiwa sejarah dapat dilukiskan dan membawa pengaruh nilai-nilai bagi pembacanya.
  1. d. Sejarah memerlukan gaya bahasa
Gaya bahasa terkait dengan sejarah sebagai emosi. Dalam rangka menuangkan narasi sejarah agar benar-benar membawa pengaruh bagi pembacanya, maka sejarah menggunakan gaya bahasa. “Dengan gegap gempita rakyat Indonesia menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Gegap gempita merupakan gaya bahasa yang berusaha menggambarkan begitu bersemangat dan bahagianya rakyat menyambut kemerdekaan. Gaya bahasa mutlak diperlukan dalam penulisan  sejarah modern ini, hal ini dikarenakan sejarah memang merupakan alat pendidikan nilai-nilai yang harus disampaikan dengan baik.
  1. 4. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan
Sejarah juga harus dilihat sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah. Pada posisi ini, meskipun sejarah dapat dilihat sebagai seni, namun sejarah tetaplah sebuah ilmu pengetahuan yang mempunyai metodologi ilmiah yang bertanggung jawab. Dengan demikian sejarah tidak dapat disamakan dengan sastra. Penelitian sejarah secara mutlak harus berdasarkan fakta sejarah yang dapat dipercaya.
  1. 3. Kegunaan Ilmu Sejarah
Kegunaan secara instrinsik (dilihat ke dalam), merupakan kegunaan yang langsung dapat kita lihat dan rasakan ketika terlibat dalam sejarah :
  1. a. Sebagai ilmu
Tahukan kalian apa itu Ilmu Pengetahuan? Ilmu Pengetahuan adalah jawaban teoritis terhadap masalah manusia. Jadi ilmu yang banyak kalian pelajari, bukanlah sebuah paksaan, karena tujuan akhirnya kalian sebagai orang terdidik harus mampu memecahkan berbagai masalah kehidupan ini. Demikian pula ilmu sejarah, karena sebagai ilmu, sejarah pun berbagi dengan ilmu lain untuk memecahkan masalah kehidupan ini. Sejarah ingin memecahkan masalah manusia yang terkait dengan masa lalu, yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Karena sebagai ilmu, sejarah tentu saja menggunakan metode penelitian ilmiah, yang bertanggung jawab, dan terukur. Sehingga ilmu sejarah, tidak terperosok menjadi pendapat semata, yang menyesatkan.
  1. b. Sebagai cara mengetahui masa lampau
Sejarah adalah ilmu tentang peristiwa masa lalu. Dengan demikian, sejarah akan mendayagunakan metode ilmiahnya untuk dapat mengetahui masa lalu. Masa lalu harus terpecahkan! Ilmu sejarah membantu kita memahami berbagai peristiwa yang mempengaruhi peradaban umat manusia sepanjang masa. Untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sekarang, manusia harus berdialog dengan masa lalu. Itulah salah satu kegunaan sejarah. Belajar sejarah dengan baik akan membantu kita menemukan jati diri, karakter dan kebanggan bangsa Indonesia.
  1. c. Sebagai pernyataan pendapat
Banyak penulis yang menyatakan pendapatnya dengan menggunakan sejarah sebagai latar belakang. Kalian dapat bukatikan itu di koran-koran, pidato-pidato, atau bahkan ketika kalian berdebat dengan teman kalian, pasti berpikir tentang masa lalu terjadi. untuk menyelesaikan masalah saat ini, kita harus melihat dulu masa lalu. Kita harus mempelajari apa sebenarnya kesalahan yang terjadi di masa lampau. Selain itu kita juga bisa mencoba strategi-strategi kehidupan yang berhasil di masa lalu. Sejarah dapat memberikan gambaran dan pengalaman-pengalaman yang berguna pada masa kini dan masa yang akan datang.
Dengan demikian, barulah kita bisa memberi saran, pendapat, bagi manusia saat ini. Pendapat tersebut berupa usulan-usulan agar kesalahan-kesalahan yang lalu tidak terulangi dan prestasi-prestasi di masa lalu dapat diulangi.
  1. d. Sebagai profesi
Sejarah berguna juga, bagi yang mendalaminya, kalau tidak tentu kasihan sekali para sejarawan, tidak berpenghasilan, dan tidak dapat eksis di kehidupan ini. Menekuni sejarah selain dapat manfaat di atas, juga dapat sebagai mata pencaharian, sebagai profesi yang dapt diandalkan dan bergengsi.
Ada banyak profesi yang berkenaan dengan sejarah. Menjadi guru sejarah salah satunya, karena di seluruh dunia ini, pelajaran sejarah selalu ada. Bahkan para bangsawan di Eropa, konon harus mendapat pelajaran sejarah setingkat S1 sebelum mereka dianggap dewasa. Menjadi guru sejarah menyenangkan sekali, bisa membawa kita dan anak didik terbang ke imajinasi, melintasi batas-batas wilayah.
Selain itu, kita bisa menjadi sejarawan ataupun arkeolog. Tahu Indiana Jones? Atau film “National Treasure”? Menyenangkan sekali bisa berpetualang mencari kisah-kisah baru, dan membuka misteri masa lalu. Di luar negeri profesi sejarawan itu sangat istimewa, karena di tangan merekalah sejarah suatu bangsa bergantung. Sayang sekali, di Indonesia keberpihakan terhadap sejarah sangat kurang. Masih banyak kisah masa lalu Indonesia yang belum terungjap.
Selain itu ada profesi lain seperti: penulis sejarah, peneliti purbakala, pemandu museum dan monumen, serta pegawai balai kajian sejarah dan pegawai arsip sejarah.
Di luar profesi itu, sejarah juga banyak membantu kita dalam profesi: wartawan, pekerja budaya, seniman, politikus (untuk mempelajari kebiajakn di masa lalu), pemandu wisata/ guide tour, penulis sastra (novelis dan cerpenis), sosiolog, antropolog, ekonom, semuanya memerlukan pengetahuan sejarah yang kuat untuk memperkuat kajiannya.
  1. 1. Kegunaan sejarah secara ekstrinsik
Kegunaan secara ekstrinsik (dilihat ke luar), merupakan kegunaan tidak langsung, yang bila kita renungi, kita resapi, maka sejarah akan berguna pada beberapa hal dalam kehidupan yaitu sebagai berikut:
  1. a. Sebagai pendidikan penalaran
Belajar sejarah itu perlu berpikir, perlu logika. Sejarah harus dilihat dalam hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang ada dalam setiap peristiwa sejarah. Ibaratkan pepatah “ada asap ada api”, “ada gula ada semut”, sejarah selalu mendorong peneliti dan pembacanya untuk menemukan sebab dari sebuah peristiwa. Hal ini menyebabkan belajar sejarah harus membuat orang berpikir plurikausal (pluri=banyak; kausal=sebab).
Dengan belajar sejarah, secara tidak langsung kita juga akan kritis dalam memandang sehala sesuatu. Oleh sebab itu sejarah dapat dikatakan, secara tidak langsung menjadi pendidikan penalaran (nalar=berpikir dengan kaidah yang benar).
Alasan ini pula yang mengidentikkan belajar sejarah dengan kebijaksanaan dan menjadi kuliah wajib bagi para keluarga bangsawan di Inggris. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Jawaharlal Nehru, Mahatma Gandhi, F.D. Roosevelt, Winston Churchil, Kennedy dan banyak tokoh besar lainnya adalah pencinta sejarah. Jika suatu saat kalian nanti menjadi tokoh besar, ingatlah perkataan saya “sejarah itu penting dan berguna”, dan buktikan apa saya benar atau salah.
  1. b. Sebagai pendidikan politik
Ada pernyatan umum yang mengatakan, sejarah itu adalah sejarah tentang politik. Sejarah banyak sekali membahas mengenai sejarah politik, bahkan selama ini sejarah selalu identik dengan politik. Dari jaman suku-suku kecil, kerajaan-kerajaan, hingga terbentuknya negara modern, semua dipelajari dalam sejarah. Para politikus dan organisasi-organisasi massa belajar sejarah untuk mengkaji kebijakan-kebijakan di masa lalu. Misalnya kebijakan ekonomi harus melihat sejarah perekonomian suatu bangsa, sehingga kegagalan-kegagalan dapat diminimalisir.
Dalam hal ini, sejarah secara tidak langsung juga menjadikan pembacanya, penelitinya mengerti tentang politik, sejarah menjadi pendidikan politik.
  1. c. Sebagai pendidikan perubahan
Bagaimana perkembangan (sejarah) hidupmu? Yah, kamu dulu hanya bayi kecil yang bergantung pada ibu, lalu kamu remaja, dewasa, dan nantinya tua juga. Sejarah juga belajar tentang perkembangan tersebut, dari awal dulu, hingga sekarang, dan ternyata dunia selalu berubah. Belajar sejarah, berarti juga belajar untuk berubah, belajar untuk bergerak, dan melakukan pembaharuan.
Sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa lalu saja. Sejarah sebagai kisah nyata pengalaman hidup manusia dapat digunakan untuk memprediksi dan mengantisipasi kejadian berikutnya/masa depan yang memiliki kecenderungan yang sama. Sehingga secara tidak langsung, sejarah mengajak kita untuk “Berubah!”, memperbaiki yang kurang, dan meningkatkan yang lebih. Mari kita berubah!

  1. 4. Nilai-nilai universal
    1. a. Nilai Ilmu Pengetahuan
Banyak contoh sejarawan bukanlah orang yang memang terdidik untuk menjadi sejarawan, tetapi penulis sejarah dapat datang dari mana saja. Sejarah merupakan ilmu yang terbuka. Kenyataannya sejarah banyak mengunakan bahasa sehari-hari, keterbukaan itulah membuat siapa saja dapat memperoleh dan mengambil ilmu pengetahuan dari sejarah.
  1. b. Nilai Kerjasama
Ilmu Sejarah merupakan ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri ia perlu ilmu-ilmu lain untuk menyempurnakan hasil kajiannya agar dapat diterima dan mudah dipahami. Dari penjelasan tersebut ternyata untuk ilmu-ilmu pengetahuan yang ada tidak dapat berdiri sendiri, harus ada kerjasama antara ilmu-ilmu.New Inspiration

DEFINIS

Definisi & Pengertian Sejarah


Setelah kamu mempelajari Asul-usul Kata Sejarah, pada bagian ini akan saya  sampaikan definisi mengenai Sejarah. Mengapa sejarah perlu definisi? Sebab, sejarah merupakan salah satu ilmu pengetahuan tersendiri, yang memiliki batasan atau definisi. Definisi dapat diartikan sebagai pernyataan secara eksplisit tentang konotasi suatu term (istilah). Konotasi itu terdiri atas atribut-atribut pokok dari term itu, dan definisi adalah pernyataan secara eksplisit tentang atribut itu, tak kurang dan tak lebih. Dengan demikian, definisi adalah suatu pernyataan sistem pemikiran yang teratur dalam taraf keilmuan.

Langsung saja, saya sekarang akan menjelaskan pengertian ataupun definisi dari Sejarah. Sejarah merupakan studi tentang manusia sebagai individu maupun kelompok dalam konteks waktu dan ruang. Sejarah adalah studi tentang kehidupan masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup manusia akan memberikan pelajaran bagi kehidupan manusia kelak.
Difinisi di atas merupakan kesimpulan yang dibuat berdasarkan pendapat-pendapat para ahli mengenai definisi dari kata sejarah. Jika anda berkeinginan untuk membaca pendapat-pendapat para ahli mengenai kata sejarah, anda dapat membaca Kumpulan pengertian dan definisi mengenai sejarah menurut para ahli.

Sejarah

PENGERTIAN DAN FUNGSI SEJARAH

A.   Pengertian “Sejarah”
Kata “sejarah” berasal dari bahasa Arab “sajaratun” yang berarti pohon. Hal itu karena pada awalnya kata sejarah digunakan untuk menyebut ilmu yang mempelajari asal usul keturunan (genealogi) seseorang. Akan tetapi ketika obyek perhatiannya berkembang menjadi asal usul sebuah peristiwa, maka ilmu sejarah berubah menjadi ilmu yang mempelajari asal usul peristiwa yang pernah terjadi.
Definisi sejarah sebagai peristiwa yang pernah terjadi dianggap terlalu luas, karena:
1.  Dipandang dari jumlahnya, di dunia ini setiap hari terjadi milyardan peristiwa.
2. Dipandang dari waktunya, pernah terjadi dapat dimaknai dari satu detik yang lalu sampai berjuta tahun yang lalu.
Beranjak dari kenyataan tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa obyek perhatian yang dikaji ilmu sejarah akan sangat luas, baik dari sudut waktu maupun peristiwanya. Oleh karena itu, kemudian dimunculkan pembatasan bahwa tidak semua peristiwa akan diperhatikan dan dikaji oleh sejarah.
Peristiwa sejarah akhirnya dibatasi pada:
1. kehidupan manusia. Sejarah hanya akan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia secara sosial. Dari sisi ini, ilmu sejarah tidak akan membahas peristiwa alam dan kehidupan manusia sebagai individu. Sebagai contoh, sejarah tidak akan membahas lebar dan kedalaman keretakan bumi serta ketinggian gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004. Ilmu Sejarah akan lebih tertarik perubahan kehidupan sosio-kultural masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya setelah bencana tsunami.
2. peristiwa yang terjadi pada 50 tahun lalu atau lebih. Angka 50 tahun dianggap batasan yang sangat baik, karena tokoh-tokoh dari peristiwa yang dikaji sudah tidak lagi memiliki pengaruh kuat, sehingga pengkajian dapat dilakukan secara lebih obyektif. Dari sisi ini, ilmu sejarah tidak membicarakan permasalahan aktual yang dihadapi oleh manusia (current events). Sebagai contoh, sejarah tidak akan membahas gerakan mahasiswa tahun 1998, karena tokoh-tokohnya masih aktif dalam percaturan politik Indonesia, sehingga sejarawan akan kesulitan/ beresiko dalam mengungkapkan kebenaran.
3. peristiwa yang penting. Taufik Abdullah menyebutkan bahwa hanya hal-hal yang bisa menerangkan sesuatu yang penting dalam kehidupan sosial yang layak dianggap dan diperlakukan sebagai "sejarah". Kriteria penting dalam konteks ini terutama dilihat dari sudut pengaruhnya, baik ditinjau dari berbagai peristiwa sejaman maupun peristiwa yang terjadi pada jaman berikutnya. Dengan kata lain, suatu peristiwa dianggap penting apabila menjadi penyebab dari berbagai peristiwa lain.
Selain sebagai peristiwa, sejarah juga menjadi nama dari cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa sejarah. Sebagai ilmu, sejarah bertugas mengkaji berbagai peristiwa kemanusiaan penting yang terjadi di masa lampau. Hasil kajian ilmu sejarah yang dilakukan oleh sejarawan berupa narasi yang secara luas dikenal dengan istilah historiografi. Narasi secara turun temurun berupa tulisan. Perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat memungkinkan apabila ke depan historiografi juga dapat berupa non teks, seperti film dokumenter.
Dari pengertian sejarah, kiranya dapat dipahami akan adanya tiga komponen penting, yaitu:
Masing-masing komponen memiliki sifat yang khas, antara lain:
1. Peristiwa sejarah:
Sebagai kejadian, peristiwa sejarah memiliki sifat 100% lengkap dan obyektif. Oleh karena telah terjadi, maka peristiwa sejarah sudah tidak ada lagi atau hilang ditelan masa. Siapapun tidak akan pernah mengalami peristiwa tersebut di lain waktu maupun di lain tempat. Sifat demikian disebut sekali terjadi atau einmalig.
2. Sejarawan
Sejarawan adalah manusia jaman sekarang yang berusaha untuk menyusun kembali peristiwa sejarah. Berbeda dengan ahli ilmu-ilmu alam yang dapat membawa obyek penelitian ke laboratorium, sejarawan tidak dapat membawa atau menghadirkan “peristiwa sejarah” yang telah hilang. Oleh karena peristiwanya sudah tidak ada, maka penyusunan dilakukan dengan berdasar pada fakta-fakta yang berhasil ditemukan. Tentu tidak mungkin seorang sejarawan mampu menemukan seluruh fakta. Dengan kata lain, fakta yang ditemukan hanya sebagian dari peristiwa sejarah.
3. Historiografi
Historiografi merupakan hasil kerja sejarawan dalam usaha menyusun kembali peristiwa sejarah atau istilah teknisnya rekonstruksi sejarah. Rekonstruksi dapat berupa gambaran tentang peristiwa sejarah atau deskriptif-narrative maupun penjelasan tentang peristiwa sejarah atau deskriptif-analitis. Rekonstruksi yang deskriptif-narrative berusaha menjawab pertanyaan tentang apa, siapa, di mana dan bagaimana sebuah peristiwa sejarah terjadi. Di lain pihak deskriptif-analitis terutama memfokuskan diri untuk menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu peristiwa sejarah dapat terjadi.

REFLEKSI
1.  Apabila ilmu sejarah membatasi diri pada peristiwa 50 tahun lalu atau lebih, siapa yang harus menjelaskan kebenaran dari peristiwa Gerakan 30 September 1965, Penentuan Pendapat Rakyat Papua tahun 1969? Sosiologikah? Ilmu Politikkah? Kedua ilmu itu, sosiologi dan ilmu politik, membatasi diri pada berbagai fenomena aktual. Kekosongan itu mendorong sejarawan untuk mengisinya dengan resiko untuk berseberangan pendapat dan berhadapan dengan penguasa.
2.  Kriteria penting yang ditetapkan ilmu sejarah mengundang permasalahan: penting untuk siapa dan kapan? Perlawanan Pangeran Diponegoro barangkali dianggap penting oleh masyarakat Jawa, tapi menjadi aneh kalau diminta penting pula untuk masyarakat Papua. Begitu pula dengan Budi Utomo yang dianggap oleh masyarakat Jawa sebagai menandai kebangkitan nasional, akan dimaknai tidak penting bagi masyarakat Aceh yang masih melawan pasukan Marsuse Belanda.
Dari sudut pandang ini, dapat dipahami bahwa di balik istilah “penting” tersebut terdapat kata lain yang perannya sangat menonjol, yaitu “kepentingan”. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “kepentingan siapa dan macam apa” yang layak menjadi pertimbangan seorang sejarawan untuk menentukan layak tidaknya sebuah peristiwa dikategorikan sebagai peristiwa sejarah?
3.  Subyektivitas.
Sebagai manusia masa kini, sejarawan memiliki berbagai keterbatasan yang akan dapat mempengaruhinya dalam melihat, menemukan dan memaknai fakta. Apalagi kalau kebudayaan sejarawan berbeda dengan kebudayaan dari obyek yang diteliti. Sebagai contoh ketika sejarawan Barat melakukan penelitian untuk merekonstruksi religi masyarakat Indonesia. Ketika melihat masyarakat Indonesia melakukan sesaji di berbagai tempat, sejarawan Barat kemudian memaknai bahwa masyarakat Indonesia adalah pemuja polytheis.
Rekonstruksi tersebut memiliki kelemahan, karena masyarakat Indonesia tidak mengenal konsep Tuhan seperti yang dianut oleh masyarakat Barat, yaitu makhluk abstrak yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia tidak pernah menggantungkan atau menyerahkan hidup mereka pada makhluk abstrak apapun. Sesaji yang dilakukan lebih merupakan ekspresi penghormatan, bukan pemujaan, kepada makhluk abstrak yang karena berupa roh dipercaya bertempat di benda-benda mati seperti pohon dan batu.
Dari keterbatasan yang dimiliki sejarawan sangat mungkin mengakibatkan penglihatan, penemuan dan pemaknaan fakta sejarah mengandung subyektifitas. Pada tingkat selanjutnya subyektifitas akan mempengaruhi rekonstruksi yang dihasilkannya, sehingga yang dihasilkannya bukan kebenaran final. Kebenaran dalam ilmu sejarah selalu terbuka untuk dikritisi dan diperbaruhi, baik karena penemuan fakta baru maupun pemaknaan baru.

B.  Fungsi Sejarah
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, “Apa untungnya mempelajari sejarah?”  Oleh karena sejarah selalu bicara tentang asal muasal sesuatu, maka salah satu kegunaan sejarah adalah untuk mengetahui asal muasal. Secara akademik sejarawan bertugas untuk seobyektif dan selengkap mungkin menjelaskan berbagai peristiwa penting di masa lampau. Dari sudut pandang ini, historiografi merupakan rekaman tentang masa lampau yang kebenarannya dapat dipertanggungjawab-kan secara ilmiah. Pola kerja seperti di atas dikenal sebagai “sejarah demi sejarah”, karena untuk menjaga keilmiahan karyanya, sejarawan sama sekali tidak memperhitungkan pihak lain di luar ilmu sejarah, seperti masyarakat umum dan pelajar.
Salah satu ciri yang menunjukkan historiografi akademik, adalah gaya bahasa yang digunakan. Meski menggunakan bahasa yang dikenal luas oleh masyarakat, tetapi kata-kata yang dipilih banyak mengandung istilah teknis dan menghindari kata-kata yang bermakna lebih dari satu. Contoh kata teknis dari ilmu sejarah antara lain: rekonstruksi, interpretasi dan ekskavasi. Pada pemilihan kata, sejarawan akan memilih untuk menggunakan kata “dapat” dari pada “bisa” dengan pertimbangan bahwa kata “bisa” mengandung makna ganda, yaitu “dapat” dan “racun”.
Pertanyaan selanjutnya adalah, “Dengan mengetahui asal muasal, masyarakat untungnya apa?” Jawabannya bisa banyak, antara lain:
1. Untuk mengetahui jati diri suatu masyarakat. Dengan mempelajari tentang masa lampau, masyarakat sekarang dapat memahami berbagai nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang telah dikembangkan dan dibanggakan oleh nenek moyangnya.
Masyarakat menjadi paham tentang betapa tingginya semangat nenek moyang mereka dalam mengembangkan hidup agar lebih sesuai dengan tata nilai yang dianut. Dari sudut pandang ini, sejarah menjadi alat penting untuk melestarikan dan sekaligus mewariskan berbagai hal dari masa lampau. Di lain pihak, dengan membaca sejarah masyarakat menjadi paham tentang siapa diri mereka dan sekaligus kemana tujuan hidup diarahkan. Sebagai contoh, dengan mempelajari batu kubur (prasarana fisik), kita dapat memetik pelajaran bahwa nenek moyang kita pada jaman pra sejarah mengembangkan dan membanggakan nilai penghormatan terhadap orangtua dan leluhur. Bertitik tolak dari fenomena sejarah itu, masyarakat sekarang dapat mengatakan bahwa menghormati orangtua dan leluhur merupakan jatidiri mereka.
2. Terkait dengan point 1, sejarah juga menjadi bahan refleksi masyarakat sekarang tentang tepat tidaknya jalan yang selama ini telah ditempuh. Dalam arti tertentu, sejarah menjadi alat penting bagi masyarakat sekarang untuk mendekonstruksi diri dan sekaligus merekonstruksi ulang jatidiri mereka. Sebagai contoh, “tepatkah kita mencemooh ziarah kubur sebagai musyrik sesuai pandangan Agama Islam yang berkonteks Arab?”; “Tepatkah kita memandang sederajad dengan orangtua sesuai dengan slogan equality dalam demokrasi yang berkonteks Barat?”. Pertanyaan-pertanyaan itu (bisa ditambah sendiri) membuka peluang bagi masyarakat sekarang untuk merekonstruksi ulang diri mereka sendiri tentang nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang paling cocok untuk mereka dalam menuju ke masa depan.
3.  Untuk menciptakan kohesivitas sosial masyarakat kontemporer.
Melalui sejarah, orang memahami berbagai nilai yang dihidupi oleh masyarakat, sehingga dapat lebih mudah menyesuaikan perilaku diri pada sistem sosial yang berlaku. Pepatah Dimana tanah dipijak disitu langit diruntuhkan merupakan simbol kewajiban untuk menghormati nilai dan norma lokal. Dengan penyesuaian diri tersebut, kehidupan sosial menjadi dapat berlangsung nyaman.

REFLEKSI: Kematian Sejarah Indonesia
Sebagai ilmu, sejarah menempatkan masa lampau sebagai obyek. Soekarno, presiden pertama Indonesia, menganalogikan peristiwa sejarah seorang puteri nan cantik jelita yang telah mati. Meski kecantikannya tiada banding, tetapi telah menjadi mayat. Meski kecantikannya enak untuk diperbincangkan, tetapi tidak ada manfaatnya bagi kehidupan sekarang. Sejarah Indonesia hanya akan ada manfaatnya untuk dipelajari apabila didasari keyakinan bahwa apabila tidak ada tekanan asing, perjalanan bangsa Indonesia akan sampai ke kejayaan:
Dewasa ini narasi sejarah Indonesia tidak seperti yang diharapkan Soekarno, tetapi justru memuja segala sesuatu dari asing dan memojokkan peradaban lokal pada sudut yang gelap. Hasilnya dapat diperkirakan sebelumnya bahwa segala sesuatu yang dianggap penting oleh generasi baru Indonesia adalah tentang kedatangan unsur asing ke Indonesia yang mampu mengeliminasi unsur asli.
Narasi sejarah tidak mampu memainkan fungsinya dalam memberikan sumbangan bagi masyarakat sekarang untuk penemuan jatidiri dan sekaligus media untuk dekonstruksi dan rekonstruksi ulang. Bahkan sejarah, entah sadar atau tidak, justru membangun benteng yang menutup pintu bagi masyarakat sekarang untuk menemukan jatidiri mereka. Pernyataan bahwa “Kebudayaan asli Indonesia tidak mungkin ditemukan” atau “Sebaiknya kita mengembangkan budaya hibrid” merupakan ekspresi keputusasaan dan kebingungan akan hilangnya jatidiri masyarakat.
Kegagalan sejarah dalam memainkan fungsinya selain merusak masyarakat sekarang dan menyuramkan masa depan mereka, secara tidak langsung juga membunuh ilmu sejarah sendiri. Oleh karena tidak mampu memberikan media untuk menemukan jatidiri dan sarana dekonstruksi, masyarakat memandang sejarah sebagai ilmu yang tidak bermanfaat. Sesuatu yang tidak berguna akan dikubur dan kalau beruntung menjadi fosil. Begitu halnya dengan sejarah. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah narasi sejarah sehingga mampu bangkit dan kembali memainkan perannya secara baik?